Pages

Ads 468x60px

Labels

iOS

5/Life%20Style/feat-tab

Facebook

Business

5/Cars/feat-tab

Author Details

Templatesyard is a blogger resources site is a provider of high quality blogger template with premium looking layout and robust design. The main mission of templatesyard is to provide the best quality blogger templates.

Post Bottom Ad

ad728

Videos

6/Tech/feat-videos

Technology

3/Tech/feat-grid

Fashion

5/Life%20Style/feat2

Header Ads

ad728

Breaking News

Android

5/Tech/feat-tab

Fashion

5/Cars/feat-tab

Follow Us @templatesyard

Translate

Recent Slider

5/Tech/feat-slider

Comments

3/recent-comments

Post Top Ad

ad728

Beauty

4/Cars/post-per-tag

Main Slider

5/slider-recent

Culture

4/Future/post-per-tag

Photography

3/Tech/post-per-tag

Recent

3/recent-posts

Popular Posts

Minggu, 06 November 2016

Secuil Cerita Penulis: Rindu Gudang Buku



Rindu Gudang Buku
Ririn Erviana


Sebulan kurang lebih lamanya, gudang buku kecil menyudut dibagian pojok aku menuntut ilmu tidak ku jamahi. Mungkin karena masih sibuk dengan beberapa kegiatan lain dan kemalasan lain. Rasanya rindu sekali dengan aroma kertas di ruangan itu, ruangan yang tidak begitu besar dan jauh dari kata mewah namun di sana aku merasa sangat nyaman terlebih dengan aroma-aroma ilmu yang tersedak disetiap sudut ruangan.
Membaca adalah kegiatan yang sangat menyenangkan bagiku, meskipun terkadang kesenangan itu kalah dengan rasa kantuk dan lelah karena aktivitas lainnya. Meskipun membaca adalah yang menyenangkan tapi di sisi lain aku lebih suka berdiskusi dalam menggali ilmu ketimbang harus membaca sendiri. Tetapi pada dasarnya untuk berdiskusi juga kita harus banyak membaca berbagai informasi. Meskipun sebulan lebih aktivitas internet berkurang, tetapi Alhamdulillah bahan baacaan masih tetap, meskipun tidak se-aktual sebelumnya. Sebenarnya ini masih bisa disikapi dengan beberapa strategi, tetapi tetap saja masih ada pengurangan di dalamnya.
Aktivitas sosmed mulai saya kurangi karena saya sadar meskipun dari sana dapat terserap berbagai informasi namun masih kalah dengan hal-hal yang mendekatkan diri kepada maksiat, dan saya sadar saya pernah berada pada zona itu. Meskipun juga di sisi lain saya masih merindukan dunia seperti itu, yaa sesekali dalam setiap harinya saya membuka itu.
Impian saya addalah bisa memanage berbagai hal. Agar semua program dalam hidup saya terorganisir dan harapannya tetap dikuatkan dalam menghadapi segala problema dan ujian hidup yang berasal dari Sang Pencipta. Karena pada dasarnya setiap makhluk hidup di muka bumi ini akan mendapatkan ujian hidup masing-masing dan berbeda satu dengan yang lainnya. Dari situ juga dapat diambil nilai, bahwa kita tidak patut mengeluh jika sekarang atau suatu saat nanti kita merasa ujian atau masalah kita terasa begitu berat, dan lebih besar dari yang lainnya. Itu karena Allah telah mengerti batas kemampuan dari masingmasing hamba-Nya, dan Allah tidak akan member cobaan melebihi batas kemampuan hambanya tersebut.
Saya masih suka menyebut kampus saya dengan sekolah. Karena sejatinya  ada penyelasan saya saat ini pada waktu berada di bangku sekolah dulu. Saya menyadari betapa saya tidak serius dalam sekolah, andai saja saya lebih serius saat di bangku sekolah tentu keadaannya akan berbeda. Namun di sisi lain saya bersyukur pernah menjalani hal tersebut, dan saya akan tetap menyimpan fase berantakan tersebut sebagai bagian dari kenangan yang terindah. Karena mungkin Allah sengaja mempertemukan saya dengan sesuatu yang salah agar di kemudian hari saya bisa memperbaiki dan mempelajarinya sehingga tidak mengulangnya lagi.

Jumat, 04 November 2016

Transfer Of Knowledge




Sederhana saja seorang pendidik dikatakan berhasil sepenuhnya ketika materi pelajaran yang disampaikannya diterima secara utuh oleh objek kegiatan pembelajaran, yaitu peserta didik. Demi mencapai itu semua maka diperlukanlah komponen-komponen untuk membantu transformasi ilmu agar berjalan dengan efektif dan memberi hasil maksimal.
Media merupakan salah satu komponen penting dalam transfer of knowledge. Seperti yang dalam pemikiran Edgar Dale dalam kerucut pengalaman. 

Hal tersebut dapat dibuktikan dalam proses pembelajaran yang nyata. Sederhana saja ketika kita sebagai mahasiswa dalam proses pembelajaran dengan dosen. Akan sangat membosankan ketika kegiatan belajar hanya membaca atau mendengarkan. Atas rasa bosan itulah kemudian ilmu yang berhasil kita serap hanyalah seperlima dari keseluruhan materi. Berbeda ketika kita mulai trelibat diskusi menjelaskan materi dengan menyajikan slide atau melakukan simulasi, maka setidak-tidaknya ilmu yang berhasil kita serap bisa tiga kali lipat dibandingkan dengan sebelumnya.
Di sisi lain, seorang guru juga memiliki peran yang begitu penting dalam proses belajar mengajar. Teringat nasihat mantan menteri pendidikan Indonesia Anies Baswedan “Kurikulum berubah tidak otomatis kualitas pendidikan meningkat, namun jika kualitas guru meningkat kualitas pendidikan pasti meningkat, itu kuncinya”. Sepertinya pesan tersebut patut kita renungi. Guru adalah eksekutor di dalam kelas. Ketika instruksi guru dapat diindahkan oleh peserta didik dengan senang hati, maka transfer ilmu akan semakin mudah.
Maka lingkungan yang nyaman dan asyik akan membuat peserta didik lebih tertari dan tidak bosan.  Kesuksesan transfer of knowledge berada ditangan guru dengan bantuan media.

 


Jumat, 23 September 2016

Bagaimana Indonesia Berkarakter?

Bagaimana Indonesia Berkarakter?
Oleh Ririn Erviana

sumber gambar : https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjdfEKVX_o442Rj_fbc7USX67o3J8TBS-ACCfiDaPJDz4XIIiOqG3Ps4yWmzxcB19PJf77aZG47kKnrWuacq_zVMhTdxphVzvdXupRN7WknM5yWQKyppdINt0K9P8or9rUmFDTwIagd4w/s1600/Pendidikan%25252BKarakter%25252Bdi%25252BSekolah%255B1%255D.jpg
Indonesia yang begitu kaya sumber daya alamnya ternyata tidak mampu memakmurkan seluruh lapisan penghuninya. Siapa yang tidak paham mengenai betapa melimpahnya kekayaan di tanah berpulau-pulau ini. Di smaping itu persoalan yang kita hadapi juga demikian berimbang dengan kekayaan alam yang kita punya. Apakah gerangan yang salah dengan negeri ini? Sebagai mahasiswa yang menuntut ilmu di jurusan tarbiyah penulis melihat permasalahan yang dihadapi bangsa ini melalui kacamata pendidikan.
Masalah-masalah yang demikian pelik dihadapi sejatinya berakar dari pendidikan. pendidikan yang kini telah sedikit demi sedikit mulai meleburkan tujuannya, yang semakin diperparah dengan subjek-subjek yang berada di dalamnya. Bukan lagi semestinya kita flashback pendidikan lampau yang lebih baik, atau bukan lagi harus menyalahkan pihak-pihak yang menentukan kebijakan. Tapi marilah kita melihat diri masing-masing, apakah posisi sebagai pendidik, stockholder, maupun sebagai peserta.
Kita juga harus sadari bahwa pendidikan di negeri ini telah miskin karakter. Tolak ukur yang dipakai hanya sekedar angka dan simbol. Kemudian melupakan apa esensi angka dan simbol tersebut. Pengembangan pendidikan juga hanya diarahkan pada aspek kognitif saja, sehingga mengesampingkan aspek afektif dan psikomotorik. Hal itu juga dapat diartikan seolah-olah semua anak di negeri ini harus menjadi ilmuwan dan filosof. Padahal anak-anak yang memiliki potensi atau kemampuan kognitif hanyalah seperlima dari keseluuruhan. Lalu bagaimana dengan mereka yang dalam kategori lain. Padahal masih ada kecerdasan linguistik, musik, parsial dan lain-lain semestinya juga diberi ruang untuk mengembangkan.
Itulah mengapa para anak-anak yang masih polos justru terdoktrin untuk bagaimana caranya memperoleh nilai setinggi-tingginya dan simbol sebagus mungkin, walau dengan cara-cara antimainstream. Para orangtua pun demikian, mereka rela membayar les atau kursus untuk anak-anak mereka asal bisa mendapat nilai bagus di sekolah, dalam waktu yang cepat. Sehingga anak selalu dituntut untuk cepat memahami materi dan mendapatkan nilai tanpa memperhatikan psikologi dan kebutuhan batin mereka.
Itulah mengapa dalam ilmu keguruan harus ada psikologi pendidikan dan pengembangan. Agar sebagai pendidik dapat mentransfer ilmu pengetahuan secara utuh tanpa membuat bosan para peserta apapun konten materinya.
Demikian juga penanaman karakter yang tidak kalah penting dalam pendidikan. secara sederhana dapat kita pahami bersekolah adalah upaya untuk membantu para peserta didik mempersiapkan diri agar bisa hidup sebagai warga masyarakat. Di dalam hidup bermasyarakat setidaknya ada tiga poin penting yang harus dimiliki, yaitu: Knowledge, Skill dan attitude. Tapi yang menduduki poin penting di sini adalah attitude atau sikap. Itulah bagian dimana pendidikan sikap atau afektif memang begitu penting dan tidak boleh dikesampingkan. Anak-anak yang memiliki kecerdasan namun tidak memiliki sikap akan sulit diterima masyarakat.
Oleh karenanya, dari manapun lapisan kita. Marilah kita sadari, bahwa semua masalah yang kita hadapi sekarang adalah akibat gagalnya pendidikan karakter. Sebagai orang tua, guru, maupun peserta marilah kita menjadikan kontekstual sebagai tolak ukur yang nyata. Bukan hanya angka, simbol dan sertifikasi yang kita kejar dari sebuah institusi pendidikan.

bagaimana postingan ini?

 

Sample text

Sample Text

5/Cars/feat-tab

Sample Text

 
Blogger Templates